Jika kalian tinggal atau berlibur
di daerah pegunungan khususnya daerah pegunungan kapur dan kalian
menggunakan air yang berasal dari air tanah, kalian pasti mengalami
kejadian diamana saat kalian mandi sabun kalian tidak berbusa serta saat
kalian merebus air timbul kerak pada dasar panci kalian. Kalian pasti
akan merasa benci jika hal tersebut terjadi karena kalian pasti akan
butuh sabun yang lebih banyak untuk membuat air kalian berbusa serta
butuh waktu lebih lama dari biasanya untuk merebus air jika pada bagian
panci kalian terdapat kerak.
Hal
di atas disebut sebagai fenomena kesadahan. Kesadahan menurut wikipedia
didefinisikan sebagai kandungan mineral-mineral tertentu di dalam air,
umumnya ion kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) dalam bentuk garam karbonat.
Air sadah atau Hard water adalah air yang mengandung banyak mineral
umumnya yang membentuk ion divalen seperti kalsium, magnesium, besi,
mangan, dll. Keberadaan ion-ion kesadahan dalam air mengikat molekul
sabun sehingga menyebabkan konsumsi sabun bertambah sehingga merugikan
secara ekonomi dan menyebabkan sulitnya menemukan kondisi yang optimum
untuk proses pembersihan. Dalam bidang industri, air sadah dapat
menyebabkan timbulnya kerak pada boiler yang dapat menyebabkan komsumsi
energi meningkat yang disebabkan oleh kerak ang ditimbulkan akan
menyerap sebagian energi panas. Air sadah dalam sistem perpipaan dapat
menimbulkan kerak sehingga mengurangi Jari-jari hidrolis pada pipa yang
mengakibatkan naiknya kehilangan tekanan pada sistem perpipaan.
Penyebab dan sumber kesadahan
Kesadahan
disebabkan oleh keberadaan ion divalen yang ada dalam air yang dapat
berikatan dengan molekul sabun dan saat bereaksi dengan beberapa jenis
ion dapat mengendap dan menimbulkan kerak. Sebagian besar kesadahan
dalam air disebabkan oleh ion kalsium dan magnesium meskipun ada kalanya
juga disebabkan oleh ion divalen lainnya seperti ion besi(II),ion
mangan(II), stronsium, dll. Dibawah ini disajikan tabel kation dan anion
penyebab kesadahan dalam air.
Air sadah sebagian besar
terjadi pada air tanah hal ini disebabkan air bersifat sebagi pelarut
yang baik yang dapat melarutkan hampir semua zat yang dilaluinya. Sifat
air tanah ditentukan oleh jenis batuan atau tanah yang dilalui oleh air
saat teejadi proses infiltrasi. Proses terbentunya kesadahan dalam air
tanah dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Dari
gambar tersebut dapat dijelaskan bahwa proses terjadinya kesadahan
dimulai pada proses iniltrasi air hujan dalam tanah. Air seperti yang
sudah dijelaskan sebelumnya akan melarutkan sebagian besar mineral yang
ada dalam tanah. Kemampuan melarutnya mineral tersebut meningkat akibat
adanya karbon dioksida yang dilepaskan oleh hasil aktivitas bakteri. Air
yang masuk kedalam tanah akan mengikat karbon dioksida dimana
pengikatan ini sebagai bentuk adanya reaksi kesetimbangan dengan asam
karbonat. Pada pH yang rendah material dasar seperti batu kapur akan
terlarut dalam air.
Metode Penentuan Kesadahan
Kesadahan
biasanya dihitung sebagai Jumlah CaCO3 dalam air. Banyak metode yang
telah dikembangkan dalam penentuan kesadahan selama bertahun-tahun. Dua
metode yang umum digunakan yang diambil dari standard method adalah
sebagai berikut:
A. Metode Perhitungan
Salah
satu metode penentuan kesadahan yang paling akurat adalah metode
perhitungan yang didasarkan pada perhitungan keberadaan divalen ion
dalam sampel air yang diperoleh melalui analisa kation yang lengkap.
Konsentrasi masing-masing ion divalen dapat ditentukan secara terpisah
melalui metode standard atomic absorption atau inductively coupled
plasma atau dengan ion chromatography serta ion-spesific-electrodes.
Perhitungan kesadahan dilakukan dengan rumus dibawah ini :
Dimana M2+ merupakan jumlah ion logam divalent dalam mg/L.
B. Metode Titrasi dengan EDTA
Metode
ini didasarkan pada reaksi antara ethylenediaminetetraacetic acid
(EDTA) atau garam natriumnya sebagai titran dengan ion logam divalent
dalam sampel air. Di bawah ini adalah struktur molekul EDTA :
EDTA
sebagai chelating agent akan membentuk kompleks yang sangat stabil
dengan ion logam divalent dalam sampel berdasarkan persamaan reaksi
dibawah ini:
Keberhasilan
percobaan ini bergantung pada indikator yang menunjukkan keberadaan
EDTA dalam konsentrasi berlebih/titik akhir titrasi. Indikator yang
biasa digunakan adalah Eriochrome Black T atau Calmagite. Dimana saat
titik akhir titrasi tercapai atau seluruh ion kesadahan terikat akan
berubah warna dari merah anggur menjadi biru yang ditunjukkan oleh
reaksi dibawah ini:
Selama
proses titrasi, seluruh ion kesadahan akan membentuk kompleks dengan
dengan indikator terlebih dahulu sebelum terjadi penambahan EDTA.
Kompleks ion kesadahan dan indikator akan menunjukan warna merah.
Keberadaan EDTA akan mengganggu kestabilan kompeks indikator tersebut
dan membentuk kompleks dengan ion logam divalen yang lebih stabil
sehingga akan membuat warna merah menjadi warna biru. Yang menunjukkan
seluruh ion kesadahan sudah terikat oleh EDTA.
Ada
beberapa gangguan yang terjadi selama proses titrasi seperti adanya
kation lain yang dapat mengikat EDTA. Namun hal tersebut dapat
diantisipasi melalui penyiapan beberapa modifikasi pada sampel seperti
menciptakan suasana basa pada kisaran pH 10 dimana pada pH tersebut
seluruh kation selain kation kesadahan akan mengendap. Khusus untuk
analisa kesadahan kalsium dilakukan dengan modifikasi pH pada kisaran 12
untuk mengendapkan sebagian besar kation logam selain ion kalsium.
Jenis-Jenis Kesadahan dalam air
Kesadahan
dibedakan berdasarkan 2 hal yaitu : 1. Berdasarkan ion logam dalam air
dan 2. Berdasarkan anion yang berikatan dengan logam.
A. Kesadahan Kalsium dan Magnesium
Ion
Kalsium dan Magnesium merupakan penyebab kesadahan terbesar dalam air.
Berdasarkan pertimbangan tertentu mengetahui jumlah kalsium dan
magnesium sebagai penyebab kesadahan penting sebagai contoh penentuan
jumlah ion magnesium dalam air dapat membantu untuk menghitung jumlah
kapur dan soda kaustik yang dibutuhkan dalam proses pelunakan air.
Kesadahan kalsium dan magnesium diperoleh dari analisa komplit dimana
ada analisa yang digunakan untuk menentukan kalsium atau magnesium
sendiri. Namun ada kalanya analisa yang komplit tidak dapat dilakukan
yang disebabkan oleh berbagai macam faktor salah satunya adalah waktu.
Sehingga biasanya dilakukan dua analisa yaitu penentuan kesadahan total
dan penentuan kalsium dalam air. Penentuan magnesium dalam air dilakukan
melalui perhitungan dengan rumus dibawah ini :
Kesadahan total – kesadahan kalsium = kesadahan magnesium
Prosedur
perhitungan diatas bersifat reliable hal ini disebabkan karena sebagian
besar kesadahan dalam air disebabkan oleh dua ion divalen yaitu kalsium
dan magnesium.
B. Kesadahan Karbonat dan Nonkarbonat
Kesadahan
Karbonat (KH) merupakan besaran yang menunjukkan kandungan ion
bikarbonat (HCO3-) dan karbonat (CO32-) di dalam air. Dalam aquarium air
tawar, pada kisaran pH netral, ion bikarbonat lebih dominan, sedangkan
pada aquarium air laut ion karbonat lebih berperan. KH sering disebut
sebagai alkalinitas yaitu suatu ekspresi dari kemampuan air untuk
mengikat kemasaman (ion-ion yang mampu mengikat H+). Oleh karena itu,
dalam sistem air tawar, istilah kesadahan karbonat, pengikat kemasaman,
kapasitas pem-bufferan asam, dan alkalinitas sering digunakan untuk
menunjukkan hal yang sama. Dalam hubungannya dengan kemampuan air
mengikat kemasaman, KH berperan sebagai agen pem-bufferan yang berfungsi
untuk menjaga kestabilan pH. KH pada umumnya sering dinyatakan sebagai
derajat kekerasan dan diekspresikan dalam CaCO3 seperti halnya GH. Jika
CaCO3 sebagai alkalinitas dan kesadahan, maka kesadahan karbonat
ditentukan sebagai berikut :
a. Alkalinitas >= kesadahan total
Kesadahan karbonat (mg/l) = kesadahan total (mg/l)
b. Alkalinitas < kesadahan total
Kesadahan karbonat (mg/l) = alkalinitas (mg/l)
Adapun
kesadahan non karbonat ialah jumlah kesadahan akibat kelebihan
kesadahan karbonat. Kesadahan non karbonat = kesadahan total – kesadahan
karbonat kation. Kation kesadahan non karbonat berikatan dengan
anion-anion sulfat nitrat.
Penentuan kesadahan karbonat
atau kesadahan sementara dan kesadahan nonkarbonat penting karena dapat
menentukan tipe pengolahan dalam unit pengolahan air minum. Secara umum
kesadahan sementara lebih mudah dihilangkan dengan cara pemanasan
maupun penambahan kapur, sedangkan untuk kesadahan tetap lebih sulit
penghilangannya dengan pemanasan sehingga secara umum kesadahan tetap
proses removalnya salah satunya dengan cara pembubuhan soda kaustik.
C. Pseudo-Hardness
Sumber
air yang mengandung konsentrasi ion Natrium yang tinggi seperti di laut
juga dapat mengganggu timbulnya busa pada sabun akibat adanya efek ion
senama. Pada dasarnya ion Natrium bukanlah penyebab timbulnya kesadahan,
dan hal tersebut hanya terjadi ketika Ion Natrium dalam air terdapat
dalam konsentrasi yang tinggi sehingga disebut pseudo-hardness.
Air
sadah tidak begitu berbahaya untuk diminum, namun dapat menyebabkan
beberapa masalah. Air sadah dapat menyebabkan pengendapan mineral, yang
menyumbat saluran pipa dan keran. Air sadah juga menyebabkan pemborosan
sabun di rumah tangga, dan air sadah yang bercampur sabun tidak dapat
membentuk busa, tetapi malah membentuk gumpalan soap scum (sampah sabun)
yang sukar dihilangkan. Efek ini timbul karena ion 2+ menghancurkan
sifat surfaktan dari sabun dengan membentuk endapan padat (sampah sabun
tersebut). Komponen utama dari sampah tersebut adalah kalsium stearat,
yang muncul dari stearat natrium, komponen utama dari sabun:
2 C17H35COO- + Ca2+ → (C17H35COO)2Ca
Dalam
industri, kesadahan air yang digunakan diawasi dengan ketat untuk
mencegah kerugian. Pada industri yang menggunakan ketel uap, air yang
digunakan harus terbebas dari kesadahan. Hal ini dikarenakan kalsium dan
magnesium karbonat cenderung mengendap pada permukaan pipa dan
permukaan penukar panas. Presipitasi (pembentukan padatan tak larut) ini
terutama disebabkan oleh dekomposisi termal ion bikarbonat, tetapi bisa
juga terjadi sampai batas tertentu walaupun tanpa adanya ion tersebut.
Penumpukan endapan ini dapat mengakibatkan terhambatnya aliran air di
dalam pipa. Dalam ketel uap, endapan mengganggu aliran panas ke dalam
air, mengurangi efisiensi pemanasan dan memungkinkan komponen logam
ketel uap terlalu panas. Dalam sistem bertekanan, panas berlebih ini
dapat menyebabkan kegagalan ketel uap. Kerusakan yang disebabkan oleh
endapan kalsium karbonat bervariasi tergantung pada bentuk kristal,
misalnya, kalsit atau aragonit.
Cara Mengatasi Kesadahan
1. Pemanasan
Kesadahan Sementara dapat dihilangkan dengan jalan pemanasan. Dengan jalan pemanasan
senyawa-senyawa yang mengandung ion bikarbonat (HCO3-)akan mengendap pada dasar
ketel. Reaksi yang terjadi adalah :
Ca(HCO3)2 (aq) –> CaCO3 (s) + H2O (l) + CO2 (g)
Mg(HCO3)2 (aq) –> MgCO3 (s) + H2O (l) + CO2 (g)
2. Dengan Cara Kimia
Untuk membebaskan air dari kesadahan tetap, tidak dapat dengan jalan pemanasan
melainkan harus dilakukan dengan cara kimia, yaitu dengan mereaksikan air tersebut dengan
zat-zat kimia tertentu. Pereaksi yang digunakan adalah larutan karbonat, yaitu Na2CO3 (aq)
atau K2CO3 (aq). Penambahan larutan karbonat dimaksudkan untuk mengendapkan ion
Ca2+ dan atau Mg2+.
CaCl2 (aq) + Na2CO3 (aq) –> CaCO3 (s) + 2NaCl (aq)
Mg(NO3)2 (aq) + K2CO3 (aq) –> MgCO3 (s) + 2KNO3 (aq)
Dengan terbentuknya endapan CaCO3 atau MgCO3 berarti air tersebut telah terbebas dari ion
Ca2+ atau Mg2+ atau dengan kata lain air tersebut telah terbebas dari kesadahan.
3. Pengenceran
Pengenceran dengan menggunakan air destilasi (air suling/aquadest) dapat pula dilakukan
untuk menurunkan kesadahan. Air yang memiliki tingkat kesadahan yang tinggi, dapat
diencerkan dengan air yang bebas sadah.
4. Reverse osmosis (RO) atau deioniser (DI)
Cara yang paling baik untuk menurunkan kesadahan adalah dengan menggunakan reverse
osmosis (RO) atau deioniser (DI). Celakanya metode ini termasuk dalam metode yang mahal.
Hasil reverse osmosis akan memilikikesadahan = 0, oleh karena itu air ini perlu dicampur
dengan air keran sedemikian rupa sehingga mencapai nilai kesadahan yang diperlukan.
5. Penggunaan asam-asam organic
Penurunan
secara alamiah dapat pula dilakukan dengan menggunakan jasa asam-asam
organik (humik/fulvik) , asam ini berfungsi persis seperti halnya yang
terjadi pada proses deionisasi yaitu dengan menangkap ion-ion dari air
pada gugus-gusus karbonil yang terdapat pada asam organik (tanian).
Beberapa media yang banyak mengandung asam-asam organik ini diantaranya
adalah gambut yang berasal dari Spagnum (peat moss), daun ketapang,
kulit pohon Oak, dll.
Proses dengan gambut dan bahan
organik lain biasanya akan menghasilkan warna air kecoklatan seperti air
teh. Sebelum gambut digunakan dianjurkan untuk direbus terlebih dahulu,
agar organisme-organisme yang tidak dikehendaki hilang.
6. Penggunaan resin pelunak air (penukar ion)
Resin
pelunak air komersial dapat digunakan dalam skala kecil, meskipun
demikian tidak efektif digunakan untuk sekala besar. Resin adalah zat
yang punya pori yang besar dan bersifat sebagai penukar ion yang berasal
daripolysterol, atau polyakrilat yang berbentuk granular atau bola
kecil dimana mempunyai struktur dasar yang bergabung dengan grup
fungsional kationik, non ionik/anionik atau asam. Dalam prosoes ini
natrium (Na) pada umumnya digunakan sebagai ion penukar, sehingga pada
akhirnya natrium akan berakumulasi pada hasil air hasil olahan.
Kelebihan natrium (Na) dalam air akuarium merupakan hal yang tidak
dikehendaki.
7. Penggunaan Zeolit
Zeolit adalah aluminosilikat berhidrat, alami atau buata, dengan struktur Kristal berdimenci tiga terbuka, yang di dalam kisinya teerdapat molekul air. Air dapat diusih lewat pemanasan dan zeolit kemudian dapat menyerap molekul lain yang ukurannya cocok. Zeolit digunakan untuk memisahkan campuran lewat penyerapan terpilih (selektif).
Reference
Anonim. (2015, 1 7). Kesadahan Air. Retrieved from www.wikipedia.com: http://www.wikipedia.com/Kesadahan-Air/
Masduki, A. F. (2012). Operasi & Proses Pengolahan Air. Surabaya: ITSPress.
Sawyer, C. P. (2003). Chemistry for Environmental Engineering and Science, 4th edition. New York: McGraw-Hill Inc.
No comments:
Post a Comment